Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan

Syair Nasehat Kepada Anak

Dengarkan tuan ayahanda berperi,
Kepada anakanda muda bestari,
Jika benar kepada diri,
Nasihat kebajikan ayahanda beri.

Ayuhai anakanda muda remaja,
Jika anakanda mengerjakan raja,
Hati yang betul hendaklah disahaja,
Serta rajin pada bekerja.

Mengerjakan gubernemen janganlah malas,
Zahir dan batin janganlah culas,
Jernihkan hati hendaklah ikhlas,
Seperti air di dalam gelas.

Jika anakanda menjadi besar,
Tutur dan kata janganlah kasar,
Janganlah seperti orang sasar,
Banyaklah orang menaruh gusar.

Tutur yang manis anakanda tuturkan,
Perangai yang lembut anakanda lakukan,
Hati yang sabar anakanda tetapkan,
Kemaluan orang anakanda fikirkan.

Kesukaan orang anakanda cari,
Supaya hatinya jangan lari,
Masyurlah anakanda dalam negeri,
Sebab kelakuan bijak bestari.

Nasehat ayahanda anakanda fikirkan,
Keliru syaitan anakanda jagakan,
Orang berakal anakanda hampirkan,
Orang jahat anakanda jauhkan.

Setelah orang besar fikir yang karu,
Tidak mengikut pengajaran guru,
Tutur dan kata haru-biru,
Kelakuan seperti anjing pemburu.

Tingkah dan laku tidak kelulu,
Perkataan kasar keluar selalu,
Tidak memikirkan orang empunya malu,
Bencilah orang hilir dan hulu.

Itulah orang akalnya kurang,
Menyangka diri pandai seorang,
Takbur tidak membilan orang,
Dengan manusia selalu berperang.

Anakanda jauhkan kelakukan ini,
Sebab kebencian Tuhan Rahmani,
Jiwa dibawa ke sana sini,
Tiada laku suatu dewani.

Setengah yang kurang akal dan bahasa,
Sangatlah gopoh hendak berjasa,
Syarak dan adat kurang periksa,
Seperti harimau mengejar rusa.

Ke sana ke mari langgar dan rampuh,
Apa yang terkena habislah roboh,
Apa yang berjumpa lantas dipelupuh,
Inilah perbuatan sangat ceroboh.

Patut juga mencari jasa,
Kepada raja yang itu masa,
Tetapi dengan budi dan bahasa,
Supaya negeri ramai temasya.

Apabila perintah lemah dan lembut,
Semua orang suka mengikut,
Serta dengan malu dan takut,
Apa-apa kehendak tidak tersangkut.

Jika mamerintah dengan cemeti,
Ditambah dengan perkataan mesti,
Orang menerimanya sakit hati,
Barangkali datang fikir hendak mati.

Inilah nasehat ayahanda tuan,
Kepada anakanda muda bangsawan,
Nafsu yang jahat anakanda lawan,
Supaya kita jangan tertawan.

Habislah nasehat habislah kalam,
Ayahanda memberi tabik dan salam,
Kepada Orang Masihi dan Islam,
Mana-mana yang ada bekerja di dalam.

Karangan Raja Ali Haji

Makna

Syair ini membicarakan tentang nasehat seorang ayah kepada anaknya. Raja Ali Haji telah memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan atau lingkungan masyarakat yang akan ditempuh si anak. Berbagai kata-kata yang berbentuk nasehat, ingatan, dan pedoman, serta ibarat telah dinyatakan dalam syair tersebut.

Ada lima nasihat yang disampaikan dalam syair ini, yaitu:
  • Kepemimpinan. Menurut syair ini, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mengontrol, kreatif, cerdas, tegas, percaya diri, dan bertanggung jawab.
  • Etika (akhlak). Seorang Muslim harus mempunyai akhlak yang baik, seperti menjaga perkataan, menghargai orang lain, dan menghormati guru.
  • Pandai menempatkan diri. Seseorang akan berhasil dalam hidupnya jika ia mampu menempatkan dirinya secara benar sesuai dengan perannya masin-masing.
  • Senantiasa menuntut ilmu. Orang berilmu, maka ia akan menjadi orang yang rendah hati, tidak takabur, dan keberadaannya senantiasa membawa kebaikan baik bagi dirinya maupun untuk orang lain.
  • Mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan potensi yang diberikan Tuhan untuk mendukung kehidupan seorang insan. Jika mampu dikendalikan, maka hawa nafsu akan menjadi pendorong untuk berbuat kebajikan.
»»  READMORE...

PUISI



Jenis-Jenis Puisi


1. PUISI LAMA

Ciri-ciri:
  • Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
  • Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
  • Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama:
  • Mantra : ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
  • Pantun : puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
  • Karmina : pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
  • Seloka : pantun berkait.
  • Gurindam : puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
  • Syair : puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
  • Talibun : pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
2. PUISI BARU

Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.

Menurut isinya, puisi baru dibedakan:
  • Balada : puisi berisi kisah/cerita.
  • Himne : puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
  • Ode : puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
  • Epigram : puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
  • Romance : puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
  • Elegi : puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
  • Satire : puisi yang berisi sindiran/kritik.
SYAIR

puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak.

Ciri-ciri:
  • terdiri dari 4 baris,
  • berirama aaaa,
  • keempat baris tsb mengandung arti atau maksud penyair.

Jenis-jenis Syair
  • syair dua larik atau kuplet,
  • syair tiga larik serangkap,
  • syair enam larik serangkap
  • syair berkait.(tergantung pada jumlah larik serangkap dan variasi rima) Istilah-istilah seperti syair romantis, syair panji, syair sejarah, syair agama, syair simbolik dan sebagainya adalah sebagai dari tema atau isi, bukan jenis atau bentuk.



»»  READMORE...
 
SembilanDe236 Template Designed by Danu | Sponsored by Blogger
Copyright © 2009 Danu Botchah. All Rights Reserved.